Kota Tanjungpinang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ |
|
Moto:
Jujur Bertutur Bijak Bertindak
|
|
|
Lokasi
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan |
|
|
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
Lokasi
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan |
|
Koordinat: 1°5′0″N 104°29′0″E
|
|
Hari
jadi
|
|
- DAU
|
Rp. 252.716.560.000,- (2011)[1]
|
- Total
|
239,5 km2
|
Populasi
|
|
- Total
|
221,153
|
804/km²
|
|
Demografi
|
|
- Agama
|
|
- Bahasa
|
|
WIB
|
|
TPG
|
|
4
|
|
18
|
|
Situs
web
|
|
Tanjungpinang atau
sebelumnya disebut Tanjung Pinang (disingkat Tg. Pinang) adalah ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Yang terletak di koordinat 0º5'
Lintang Utara dan 104º27' Bujur Timur, tepatnya di Pulau Bintan.
Kota ini
memiliki cukup banyak daerah parawisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih
2 mil dari pelabuhan laut Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan
Pura, Pantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang
lebih 65 km dari kota, dan pantai buatan yang terletak di garis pantai
pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).
Pelabuhan Laut
Tanjungpinang - Pelabuhan Sri Bintan
Pura memiliki kapal-kapal jenis feri
dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam
dan pulau-pulau lain seperti; kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota
lain di Riau daratan, juga merupakan akses internasional ke negara Malaysia dan
Singapura.
Sejarah
Berdasarkan Sulalatus Salatin kawasan kota ini merupakan
bagian dari Kerajaan Melayu,
setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah
menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka. Kemudian menjadi pusat
pemerintahan Kesultanan Johor,
sebelum diambil alih oleh Belanda terutama setelah
Belanda menundukan perlawanan Raja Haji Fisabilillah
tahun 1784 di Pulau Penyengat.
Pada masa
kolonial Belanda, Tanjungpinang ditingkatkan statusnya menjadi pusat
pemerintahan dari Residentie Riouw pemerintah Hindia-Belanda. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi Kabupaten Tanjung Pinang.
Setelah menjadi Kota Administratif
- Kabupaten Tanjung Pinang hingga tahun 2000, berdasarkan UU Nomor 5 Tahun
2001, pada tanggal 21 Juni 2001, statusnya menjadi Kota Tanjungpinang. Pusat
pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang di pemukiman padat
penduduk kemudian dipindahkan ke Senggarang
(bagian utara kota) sebagai pusat pemerintahan. Hal ini ditujukan untuk
mengimbangi kesenjangan pembangunan dan kepadatan penduduk yang selama ini
berpusat di kota lama (bagian barat kota).
Pemerintahan
Pada tahun 2002
terpilih Dra. Hj. Suryatati A. Manan sebagai Walikota pertama melalui pemilihan oleh DPRD
Kota Tanjungpinang. Pada tahun 2007, ia terpilih kembali untuk menjadi Wali
Kota Tanjungpinang.
Wilayah
administrasi pemerintahan Kota Tanjungpinang dibagi menjadi 4 kecamatan dan 18 kelurahan. Kecamatan-kecamatan di Kota
Tanjungpinang adalah: Tanjungpinang
Barat, Tanjungpinang
Kota, Bukit Bestari,
dan Tanjungpinang
Timur
Geografi
Sebagian
wilayah Tanjungpinang merupakan dataran rendah kawasan rawa
bakau dan sebagian lain merupakan perbukitan sehingga lahan kota sangat berfariasi
dan berkontur.
Iklim
Kota
Tanjungpinang' maupun Pulau Bintan
keseluruhan beriklim tropis dengan temperatur
23 °C – 34 °C. Tekanan udaranya berkisar antara 1.010,2 mbs dan
1.013,7 mbs.
Musim
Secara resmi
memiliki musim kemarau dan musim penghujan. Tidak ada perbedaan musim yang
mencolok di daerah ini. Hujan dapat turun sepanjang tahun. Namun setiap akhir
sampai dengan awal tahun terjadi "Angin Utara" yang sangat berbahaya
dengan gelombang yang sangat kuat.
Kependudukan
Suku Melayu merupakan kelompok etnik yang dominan di kota ini,
selain itu terdapat juga etnik Tionghoa, Jawa,
Minang, Bugis
dan Batak. Sementara bahasa yang digunakan umumnya Bahasa Melayu selain dari pada Bahasa Indonesia. Selain itu Bahasa Tiochiu juga masih digunakan oleh
komunitas masyarakat tertentu di Kota Tanjungpinang.
Perhubungan
Kota
Tanjungpinang terdapat Pelabuhan Domestik dan Internasional yaitu Pelabuhan Sri Bintan
Pura, serta Bandara Internasional, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.
Perekonomian
Pada tahun
2001, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi yang cukup
signifikan dalam membangun perekonomian Kota Tanjungpinang yaitu sebesar 35,54%
kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan 15,37%, sektor bangunan
13,29%, sektor jasa-jasa 12,51%, dan sektor pengangkutan dan komunikasi 10,82%.
Sedangkan sektor lainnya meliputi sektor listrik, gas, dan air bersih,
keuangan, pertanian, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 12,47%.[2]
Pariwisata
Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan
wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 km² ini berada di sebelah barat
Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada
pulau ini terdapat banyak peninggalan lama dengan wujud bangunan dan makam yang
telah dijadikan situs cagar budaya. Selain itu juga dijumpai kelenteng atau
vihara di kawasan Kampung Bugis yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi.
Pariwisata di
kota Tanjungpinang ditunjang oleh adanya 13 hotel bintang, 43 hotel non
bintang, 34 rumah makan dan pusat-pusat belanja yang terdiri dari 13
supermarket serta pertokoan yang tersebar di wilayah kota. Sementara jumlah
kunjungan wisatawan didominasi dari negara Singapura, Malaysia dan Belanda. Kota ini juga menawarkan sajian kuliner
aneka hidangan laut, dan masakan Cina.[3
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjungpinang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar